Showing posts with label Photos. Show all posts
Showing posts with label Photos. Show all posts

December 16, 2011

Baby Spa

Aidan sudah 6 bulan usianya. Selama 6 bulan ini juga belum pernah dipijat sama sekali. Maksud aku dipijat beneran dengan cara yang benar, bukan asal-asalan seperti yang aku lakukan. So, i decided to take him to Woman & Woman Spa. Katanya di situ ada baby spa juga. Hmm.. penasaran seperti apa jadinya kalau Aidan berenang :)
Dengan kamera di tangan, aku hapalin cara pijetnya. Hehehehe..
Konon, acara massage dan berenang ini bikin bayi lebih tenang, postur tubuhnya bagus, dan ototnya lebih kuat. Yang jelas, karena Aidan gerakan kakinya agak2 lebay, dia perlu dipijet karena aku khawatir dia suka pegel2 gitu.


Pertama, pijat kaki, tangan, stretching, gaya mengayuh pedal,..

trus punggung, leher, bahu, patpat. Biar dia ngga guling2, salah satu therapist ngajakin main boneka Tigger. Untunglah Aidan cukup sopan untuk mau meladeninya, hehehe :p

Kalo Aidan udah bosan dan nangis, terpaksa acara massage di-pause dulu :)
Dirayu-rayu ngga berhasil, terpaksa mamanya turun tangan, gendongin dulu sambil main di depan cermin. 

Kalau sudah tenang, resume lagi.

Akhirnya bagian paling ditunggu pun tibalah saatnya. Berenang ^^
Aidan harus pakai pelampung khusus di lehernya supaya kepala tetap di atas permukaan air, nanti biarkan badannya mengambang di dalam air, trus tangan dan kakinya gerak2, trus postur tulang belakangnya terbantu jadi tegak dan lehernya dilatih supaya kuat.
Itu skenarionya.
Tapi..
Aidan sudah agak telat mulainya. Jari kakinya sudah sampai ke dasar.
Dan yang jadi masalah, dia ngga mau pakai pelampungnya.

Itu kan pelampungnya dekat sama wajahnya, bawaannya pengin dimasukin mulut aja. Tapi karena ngga bisa, cuma bisa dijilatin dan dia mulai kesal. Apalagi jadi susah tengak-tengok.

Akhirnya, ngga berhasil ditenangkan. Dalam kurang dari 5 menit (harusnya 15 menit, at least), dia udah nangis keras banget, marah.
Hup! Diangkatlah dia dari kolam dan ditenangkan, digendong lagi keliling ruangan. Setelah udah bisa ketawa, dicoba pakai pelampung lagi.. Langsung nangis! T_T Huhuhu... Gagal deh acara berenangnya.

Katanya sih wajar kalau pertama kali mencoba ini bayinya nangis. Hmm, kapan ya coba lagi? Semoga Aidan udah berani. Tapi jangan2 saat itu Aidan sudah napak ke dasar kolam? :D Telat siiihh...


Tapi seriously, masuk ke W&W selalu bikin aku pengin daftar utk perawatan top to toe. Ahhh, Aidan kan udah makin berat, makin pegel aja badan ini gendongin dia kesana kemari. Maybe this weekend?
2 hours for me-time is not too much, is it? ;)

June 11, 2010

I really..

...adore this door.


I think it remains me to my grandma's house :D


I always wanted to pose for a photo in front of classic doors. But wierdly, i could not find the one that i've always wanted for years at that time. So, when i found this one, i din't wanna loose the chance :)


Photos by: FH

May 10, 2010

When The Walls Speak

Kalau bicara tentang seni, Jogja selalu punya tempat untuk mengekspresikannya. Galeri seni ada banyak, gedung pertunjukan juga bagus, sekolah seninya pun telah menghasilkan banyak seniman handal. Tapi, kalau cuma begitu aja seni hanya akan menjadi milik segelintir orang.
Kota adalah media berkesenian yang tak terbatas. Jalan-jalan, pohon-pohon, tembok-tembok, semua adalah media. Melalui media ini, seni juga bisa menyuarakan pesannya, curhat, maupun berkampanye. Lihat saja mural-mural yang bertebaran di tembok-tembok Jogja. Meraka menyuarakan beragam pesan sesuai isi hati si pemesan atau pembuatnya.

Juga sesuai dengan lokasinya.

Ini adalah mural di dekat pasar Beringharjo. Gambar dua orang perempuan pedagang bunga tapi memanfaatkan waktunya juga untuk membaca.

Ini masih di sekitar pusat perputaran uang. Tepatnya di Jl Suryotomo.
Medianya adalah rolling door sebuah toko yang sudah tutup karena sudah malam. Sangat menggambarkan fungsi bangunan dan waktunya bukan? Hehe..
Buat yg belum tau, ini adalah gambar seorang anak yang mau membeli sesuatu di toko (tumbas = beli), tapi jawabannya adalah: "belum buka ya Nak.."

Aku suka ini. Ini adalah mural di samping gedung SD Tumbuh, sebuah sekolah inklusif. Di sini, semua anak boleh bersekolah. Nggak peduli apa warna kulitnya, suku, ras, agama, bahkan kemampuan fisiknya. Di sini, anak-anak dengan kemampuan normal bercampur baur dengan anak-anak berkebutuhan khusus (diffable).
Tulisannya "SD Tumbuh Celebrating Diversity"

Naaahh.. kalau ini adanya di kaki-kaki jalan layang yang melintasi rel kereta api stasiun Lempuyangan.
Di sini, gambar-gambarnya menceritakan kisah-kisah rakyat dengan nuansa pewayangan.

Looks familiar? Di belakangku itu adalah kisah si Jaka Tarub. Tepat pada episode ketika sang Bidadari akhirnya menemukan selendang/sayapnya dan memutuskan untuk kembali ke rumahnya di Khayangan.

Masih banyak lagi mural-mural bertebaran dengan pesan-pesan yang beragam. Kampanye HIV/AIDS awareness, anti korupsi, anti provokasi dan lain-lain. Semoga pesannya bisa sampai dengan optimal ya..

Anyway, mohon maaf ya kalau fotonya kurang jelas, karena memang mengambilnya di malam hari jadi ada keterbatasan cahaya.

Photos by FH

April 20, 2010

Morning Glory

This is a beautiful view from the top of my homestay at 5.30 am one day


I really love the colors gradation that sprouts from the horizon. I rarely see this, because i live in 2nd floor, right below this top floor, and i don't always (very rare, actually) go upstairs in early morning.
But that early morning i needed to sun-dry my laundry before i go to work at 6.45. That was when i found this heavenly sky. God is a very great artist, indeed :)


And this is at 5.36 am.


How 'bout you? How's your morning?
I hope you always gratitude every morning you have :)

March 26, 2010

Another Hunting Place

Udah sering ke Jogja?
Berarti udah sering ke Malioboro dong?
Udah pernah ke Pasar Beringharjo? Pasti belanja batik atau aksesoris?
Nah, kalau ke tempat ini, sudah pernah atau belum?


Ini adalah gang kecil tepat di samping utara Pasar Beringharjo Yogyakarta yang berada pada ujung jalan Malioboro yang kesohor itu. Bisa dicapai dengan masuk langsung dari tepi jalan malioboro tepat sebelum pintu masuk barat pasar, atau bisa juga dari tengah pasar, in case mau jalan-jalan dulu belanja batik.
Di gang ini, ada banyak toko yang menjual berbagai barang kebutuhan sehari-hari sampai barang yang sulit diperoleh di tempat lain.
Aku suka berkunjung ke sini, beli bahan-bahan untuk bikin aksesoris atau beberapa kebutuhan jahit-menjahit.
Tapi ada yang lebih menarik lagi.
Di sepanjang gang sempit yang sesak ini, banyak pedagang kecil yang membuka "kios" seadanya, dengan meja dan atap terpal, atau bermodal etalase kecil saja.
Ada beberapaorang kios/lapak yang bersedia membeli perhiasan emas kita, maupun menjual miliknya, ada juga yang berjualan barang-barang bekas tapi bermerk (asli.) Sumglasses bermerk dengan harga miring bisa kita dapatkan lho kalau jeli memilih.
Yang cukup mencolok adalah banyaknya barang-barang kuno yang dijual di kios-kios tersebut. Barang-barang kecil tapi punya cerita. Meskipun, banyak juga barang-barang produksi sekarang tapi diberi penampilan "seakan-akan kuno."
Well, aku bukan ahli barang kuno, jadi nggak tau betul tingkat keasliannya ataupun nilainya. Tapi kalau melihat penampilannya, beberapa barang sih aku yakini benar-benar kuno sekali. Lebih kuno daripada vintage, hehehehe :D


Patung-patung kecil, tiruan senjata-senjata tajam berukuran kecil, lonceng-lonceng dan batu-batuan, bahkan uang kuno pun bisa ditemukan di sini.
Seringkali para calon pengantin yang mencari pecahan uang terkecil pun bisa mendapatkannya di gang ini.

Aku suka ide ini: memasang stempel yang biasa digunakan untuk batik cap sebagai pajangan setelah dikasih pigura. Love it love it love it!

Dan bagi pemburu koleksi album-album lawas para penyanyi atau musisi idolanya, tempat ini menawarkan harta karun.


Silakan pilih dengan jeli.


Tapi yang aku nggak ngerti..


Who on earth would buy these shoes?


Selamat berjalan-jalan!

Photos by: Firman Hamidi

February 7, 2010

Sunday Morning along the valleyside

Setiap pagi di hari Minggu, sebagian kawasan Universitas Gajah Mada Jogja selalu ramai. Banyak orang yang datang ke situ dengan alasannya masing-masing.
Ada yang berolah raga, ada yang pengin mengolahragakan anjing peliharaannya, ada yang jualan, ada yang sengaja ingin membeli sesuatu, ada juga yang pengin mengamen, mengemis, atau pengin pamer gaya berpakaian terbarunya.
Momen ini memang selalu datang setiap minggu, tapi kok nggak pernah sepi ya?
Sun-Mor memang punya daya tarik tersendiri buat siapapun. Mungkin karena itu tadi, banyak banget yang bisa dilakukan di sini.
Aku suka jalan2 di sunmor meskipun cuma untuk cari keringat dan cuci mata aja. Kalau beruntung, bisa dapat barang unik dengan harga yang cocok sama kantong!

Dulu tempatnya di sekitar Boulevard UGM dan di lembah aja, tapi sekarang udah diatur lebih ketat lokasi2nya. Cuma sepanjang jalur timur seberang masjid kampus UGM sampai tepi lembah aja, dan ternyata bercabang juga ke arah timur perempatan masjid kampus. Makin marak dan makin banyak yang dijual. Menyenangkan juga ^^


Meskipun berdesak-desakan dan makin panas, tapi kadang nggak kerasa juga udah jalan 2-3 jam. Asyik sih, lihat kanan-kiri.. Banyak inspirasi buat berkarya juga.
Belum lagi kalo mampir2. Hehe.. Itu adalah kewajiban bagi naluri cewe :D

October 17, 2009

Lawung Ageng

Hari Sabtu lalu, aku datang ke 0 km (Monumen 1 Maret) karena ada invitation dari Mas Hendro Plered di FB. Ternyata di situ diselenggarakan acara budaya, orasi dan tarian yg intinya sih meminta adanya Pisowanan Ageng. Pisowanan Ageng sendiri merupakan ajang pertemuan Sultan Jogja dengan masyarakat, supaya masyarakat bisa menumpahkan uneg2 dan meminta konfirmasi mengenai berbagai hal, keresahan maupun pertanyaan.
Nah, dalam hal ini yang sedang menimbulkan keresahan rakyat Jogja adalah soal RUU Keistimewaan yg sedang digodog pemerintah pusat. Bagaimana nantinya Jogja akan menentukan Gubernurnya? Dengan penetapan seperti yg sudah berjalan selama ini, ataukah dengan pilkada? Hmm..
I wonder, kenapa perlu merubah sesuatu yang sudah berjalan begitu lama dan ngga menimbulkan persoalan apapun? Apakah demokrasi = pemilihan umum? Gimana kalau penetapan adalah sesuatu yg diinginkan seluruh rakyat? Bukankah itu juga demokrasi?
Yang menarik, di kesempatan itu juga ditampilkan sebuah tarian yang merupakan karya Sultan HB I. Nama tariannya Lawung Ageng. Seharusnya dibawakan oleh lebih banyak penari, tapi karena kondisi yang mendesak, menggambarkan keprihatinan, dan dengan dana terbatas, maka dibawakan dengan penari yg kurang daripada yg seharusnya.
Anyway, tarian ini menggambarkan dua kubu yang berselisih karena beda pendapat dan ada provokatornya juga, kemudian ada pihak yg punya ide buat melakukan perundingan aja daripada perang melulu.
Ini foto2nya:

Menunggu acara puncak dimulai:



Demonstrasi dengan berbagai macam tuntutan mengenai keistimewaan Yogyakarta:

Turis2 asing tertarik juga nih:

Di sini para pemain gamelan mengiringi penari2:

Para penari juga digangguin sama badut2 nakal dan provokator yang bikin mereka bertarung:

Huhh.. nunggunya lama, panasss... istirahat dulu aahhh..

Dan inilah dua kubu yang bertarung itu:







Dan akhirnya, ada yang punya inisiatif untuk berunding mencapai perdamaian: